Jakarta menjadi saksi penghormatan musikal kepada Teresa Teng ketika konser tribut berlangsung di The Ballroom at Plaza Senayan, Rabu malam. Pertunjukan yang digelar pada 28 Oktober 2026 itu dimulai pukul 19.00 WIB, menghadirkan nostalgia lintas generasi. Kris Dayanti membuka rangkaian dengan Mencintaimu dan Can’t Take My Eyes Off You, sebelum mengundang Flora Liu berduet. Kolaborasi Tian Mi Mi menjadi jembatan antara penyanyi Indonesia dan tamu Shanghai, sekaligus menghidupkan warisan Teresa Teng.
Konser tersebut didukung Color Asia Live, menghadirkan suasana intim melalui tata pertunjukan yang menonjolkan vokal dan orkestra. Penyelenggara memadukan atmosfer elegan dengan kedekatan panggung, sehingga penonton dapat menyimak detail interpretasi musik secara lebih leluasa. Kehadiran musisi lintas generasi menegaskan daya tahan lagu-lagu Teresa Teng, yang tetap akrab di tengah perubahan selera pendengar.
Kris Dayanti Mengawali Penghormatan untuk Teresa Teng
Kris Dayanti mengambil posisi pembuka dengan membawakan dua lagu bernuansa berbeda, yakni Mencintaimu dan Can’t Take My Eyes Off You. Kemudian, ia mengajak Flora Liu menyanyikan Tian Mi Mi, lagu yang menjadi salah satu penanda popularitas Teresa Teng di Asia. Usai duet tersebut, Kris menyerahkan panggung kepada Flora, yang melanjutkan pertunjukan dengan repertoar penghormatan terhadap sang legenda. Penampilan pembuka itu menghubungkan pop Indonesia dengan repertoar Mandarin, membangun suasana lintas budaya sejak awal konser.
Flora Liu Membawa Nuansa Shanghai ke Jakarta
Flora Liu yang datang dari Shanghai menyuguhkan Man Bu Ren Sheng Lu dan He Ri Jun Zai Lai sebagai penghormatan. Ia kemudian mengundang Putri Ayu bergabung, sebelum penyanyi Indonesia tersebut meneruskan penampilan melalui sejumlah lagu pilihannya. Perpindahan vokal antarpanggung itu memberi ruang bagi karakter berbeda, tanpa memutus benang merah penghormatan kepada Teresa Teng.
Orkestra 50 Pemain Menguatkan Atmosfer Nostalgia
Flora Liu menutup konser lewat tujuh hits Teresa Teng: Mei Hua, Shanghai Tan, Yue Liang Dai Biao Wo De Xin. Seluruh repertoar mendapat iringan 50 Piece Orchestra by Astrid Lea, dipimpin konduktor RM Condro sepanjang pertunjukan. Aransemen orkestra mengolah melodi populer menjadi lanskap klasik yang lebih megah, tetapi tetap menjaga kelembutan komposisi aslinya. Skala ansambel tersebut memperluas dinamika konser, sekaligus memberi bobot musikal pada lagu-lagu yang telah melekat dalam ingatan publik.
Teresa Teng Menyatukan Warisan Musik dan Nostalgia
Penyelenggara menilai konser ini bukan hanya perayaan nostalgia, melainkan juga pengakuan atas pengaruh Teresa Teng dalam sejarah musik Asia. David Ananda, Managing Director Color Asia Live, menyebut nilai musikal dan budaya sang penyanyi tetap relevan bagi pendengar. Kehadiran Kris, Flora, dan Putri Ayu mempertemukan generasi serta latar musikal berbeda dalam satu panggung penghormatan.
Pengalaman Hangat bagi Penonton dan Penyelenggara
“Konser ini sukses menciptakan sebuah experience yang elegan dan intimate, di mana penonton dapat benar-benar menikmati vokal,” ujar Andrea Kurniawan.
Andrea Kurniawan, CEO The Ballroom at Plaza Senayan, menilai rancangan venue memberi kesempatan penonton menikmati detail pertunjukan lebih dekat. David Ananda juga menyoroti perpaduan penampil, orkestra, dan arahan musikal yang menghadirkan nostalgia sekaligus kesegaran bagi penonton.
Penonton Merasakan Nostalgia dalam Balutan Orkestra
“Mendengar lagu-lagu hits Teresa Teng dibawakan langsung dengan iringan orkestra membuat saya bernostalgia ke masa lalu,” tutur Astrid.
Pengalaman tersebut menghadirkan suasana hangat, terutama ketika komposisi yang akrab sejak lama bergema melalui penampilan langsung bersama orkestra. Kenangan personal penonton pun bertaut dengan peristiwa kolektif, memperlihatkan daya musik dalam menyatukan pengalaman lintas generasi. Konser tribute itu merangkum penghormatan lintas generasi melalui repertoar pilihan, kolaborasi vokal, serta dukungan ansambel besar.
Pentas di Plaza Senayan mempertemukan popularitas lagu lama dengan pendekatan aransemen yang memberi ruang bagi interpretasi baru. Melalui suara Flora Liu, Kris Dayanti, dan Putri Ayu, karya Teresa Teng kembali menemukan resonansi di hadapan penonton Jakarta. Orkestra Astrid Lea di bawah RM Condro menutup malam dengan kesan megah, sekaligus menjaga kehangatan lagu-lagu legendaris.