Pernah tidak sih, pas lagi scroll reels instagram atau TikTok tiba-tiba aja kedengaran potongan lagu yang rasanya familiar waktu di dengar? Atau pas lagi setting playlist harian fi Spotify rasanya kok lagu yang lagi diputar itu tipenya mirip awal terbentuknya lagu beat, cara nyanyian sampai durasi lagunya yang tidak sampai 2 menit?
Nah kalau kalian pernah ngerasain hal demikian, selamat karena masa muda kalian terisi oleh hal-hal menyenangkan. Industri musik masa kini emang lagi ngalamin pergeseran yang cukup liar gara-gara teknologi dan kebiasaan kita sendiri sebagai pendengar.
Pengaruh Kuat Si “Algoritma” dan Fenomena Musik TikTok
Dulu musisi atau band memerlukan proses yang panjang untuk mengeluarkan single dan album, masuk radio ibukota atau mempromosikan dari kafe ke kafe supaya semakin dikenal luas. Namun sekarang, cukup buka sosial media berupa TikTok, Youtube atau playlist lainnya kalian sudah bisa mendengarkan lagu-lagu dari penyanyi pendatang baru.
Masalahnya, karena platform yang mengejar iatensi instan, musisi sekarang yang dituntut untuk membuat lagu enak didengar di detik petama itu juga. Dengan demikian, semuanya serba cepat, padat dan bisa langsung ke inti lagu.
Kenapa Lagu Jaman Sekarang Sering Dibilang “Mirip”?
Kalau ngikutin riset-riset soal musik belakangan ini, ada temuan menarik. Peneliti pernah menganalisis ratusan ribu lagu dari dekade ke dekade. Hasilnya? Lirik lagu masa kinicenderung lebih personal, lugas, tapi di satu sisi juga lebih repetitif dan gampang ditebak.
Kalau tidak mengikuti reiset aman sekarang, kalian bisa menemukan beberapa penelitian seperti menganalisa ratusan ribu lagu dari dekade ke dekade. Hasilnya apa? Lirik lagu masa sekarang cenderung lebih ke personal,
Beberapa faktor yang bikin musik era sekarang terasa seragam:
- Kejar Tayang Algoritma: Durasi lagu dibuat lebih pendek (rata-rata di bawah 2,5 menit) supaya jumlah streaming (play count) makin cepat terkumpul. Kalau lagu kependekan atau kelamaan intro, orang keburu skip.
- Formula yang ‘Udah Ketahuan Laku’: Produser musik kadang main aman. Kalau ada satu genre atau cengkok vokal yang lagi meledak di pasaran, biasanya bakal banyak yang ngikutin formula serupa.
- Teknologi Pendukung: Penggunaan auto-tune atau perangkat mixing digital bikin vokal dan tata suara jadi terdengar sangat rapi, mulus, kadang malah bikin karakter asli suara manusia jadi agak “hilang” karena terlalu di-polish secara matematis.
Apakah Musik Sekarang Jelek?
Tentu saja nggak. Gara-gara digitalisasi ini juga, batasan genre jadi makin tipis dan seru. Kamu bisa dengerin lagu pop yang dicampur dangdut koplo, atau musik folk akustik berpadu dengan ketukan elektronik (EDM) yang megah. Musisi independen (indie) juga punya panggung yang setara buat unjuk gigi lewat platform digital tanpa harus bergantung sepenuhnya pada label mayor.
Selain itu, ada fenomena unik di kalangan Gen Z belakangan ini: nostalgia fisik. Di tengah gempuran lagu digital yang serba instan, penjualan piringan hitam (vinyl) dan kaset pita justru naik lagi. Banyak anak muda pengen ngerasain pengalaman dengerin musik yang “utuh”—nggak cuma sekadar numpang lewat di telinga kiri lalu hilang.
Kesimpulan
Musik masa kini adalah cerminan dari zaman kita hidup: serba cepat, praktis, terkoneksi, tapi kadang juga gampang jenuh. Mau dibilang bagus atau nggak, balik lagi ke selera masing-masing.